KATA PENGANTAR
Didasari oleh pengamatan terhadap realita yang terjadi di masyarakat, maka Komunitas Sarangge Mbozo ( KSM ) menyatukan komitmen untuk membangun visi dan misi menjadikan ”Komunitas Sarangge Mbozo” sebagai wadah pembinaan bagi generasi muda yang peduli akan nasib budaya lokal.
KSM adalah organisasi Kepemudaan yang berdiri di atas fondasi kebersamaan dengan satu komitmen dan visi yang tidak memihak (bersifat independen), tidak berorientasi politis, RAS, dan bukan pula suatu badan yang mencari keuntungan semata.
Keinginan pemerintah pusat dan daerah untuk terus menigkatkan Sektor Pariwisata yang salah satunya dengan memamerkan budaya lokal tentu tidak lepas dari berbagai tantangan dan hambatan, oleh karena itu pemerintah perlu bekerjasama dengan berbagai elemen – elemen yang ada di masyarakat termasuk di dalamnya adalah Organisasi Kepemudaan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemerintah menjalankan berbagai kebijakan – kebijakannya terlebih lagi diberlakukannya Undang Undang No. 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Pertimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.
Oleh karena itu, Komunitas Sarangge Mbozo yang disingkat dengan KSM sebagai sebuah Organisasi Kepemudaan (OKP) yang peduli terhadap masalah budaya merasa bertanggung jawab untuk terus memelihara buday Bima yang sudah mulai terkikis dan dilupakan oleh generasi muda sekaligus ikut berperan secara aktif membantu Program Pemerintah yang menyangkut sosial, budaya dan pariwisata sehingga apa yang dicanangkan tersebut bisa tercapai.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
E.B.Tylor seorang antropolog terkemuka, mengungkapkan dalam bukunya Primitive Culture, yang terbit tahun 1924: "Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat” Dalam perspektif sosiologi, kebudayaan sebagaimana dikemukakan oleh Alvin L. Bertrand, adalah segala pandangan hidup yang dipelajari dan diperoleh oleh anggota-anggota suatu masyarakat.
Termasuk di dalam kebudayaan adalah: segala bentuk bangunan, peralatan, dan bentuk-bentuk pisik yang lain; di samping. teknik-teknik, lembaga masyarakat, sikap, keyakinan, motivasi serta sistem nilai yang diberlakukan pada kelompok.
Dari apa yang dikemukakan oleh para pakar tersebut, alangkah naifnya ketika kita melupakan budaya kita sendiri, yang telah tertanam dalam jiwa dan peradaban Dou Labo Dana Mbojo yang menjujung tinggi nilai-nilai budaya, moralitas, etika dan religiulitas.
Telah menjadi sebuah keniscayaan bahwa nilai-nilai tersebut hari ini telah luntur dan hilang bahkan telah diporak-porandakan oleh Poetra-Poetri Bima “Dana Mbojo”’
- Apakah ini yang diinginkan oleh Leluhur Dou labo Dana Mbojo?
- Ataukah kita sendiri yang sengaja menghianati Kearifan Budaya Lokal?.
- Ataukah memang nilai-nilai tersebut hanyalah sebagai simbolitas dan bualan hampa pelaku sejarah yang tidak memiliki makna yang membius pemikiran Dou Labo Dana Mbojo?
Dari problematika tersebut, mari kita bersama-sama membenahi dan me-rekonstruksi kembali, sehingga tatanan nilai budaya, moralitas, etika dan religiulitas mampu terjewantahkan dalam aktivitas kehidupan modern Dou Labo Dana Mbojo.
Bima sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak warisan budaya yang sudah sepantasnya kita sebagai generasi untuk terus melestarikannya sebagai bentuk kekayaan yang dimiliki oleh daerah tersebut. KSM lahir ditengah keterpurukan budaya yang seakan – akan telah dilupakan oleh Kaum Muda bahkan oleh Kaum Tua ”Dana Mbozo” akibat dari ”Kemajuan” zaman yang semakin hari semakin menggerogoti budaya – buday asli yang kita miliki. ”Dana Mbozo” yang dikenal oleh sejarah dengan budaya islami yang dimiliknya kini telah dilupakan oleh anak zaman .
Ara dana ro rasa ndai mbojo wara budaya rimpu “NTOINA” wara wali ja ntumbu tuta “NTOINA”, kareku kandei, uma lengge, gantao, tari ana fare pidu, tari wura bongi monca, sere, ro samena na adat ro kebiasaan dou ma ntoi. Pala sara’a na ede re tinggal cerita mpa, ndi mpa’a cerita ba dou ma tua ndi kamaru kaina ana na. Ta be ku ndi eda mbali kai ba ndai samena na ede re wati si kawara ro kawontu mbali ba ndai dou mbojo.
“lingi na ade na wa’ura langa, hampa ba pehe ba da eda weata pahu na, ne’eta kambali na nggahi ku ba dou mbalo, lingi na ade ti wara dou ma eda, mai ra samena na weki dou mbojo ta kambali ku mbojo ma ntoi ma kapahu au ra pehe ma katada rawi ma tedi ma katedi rawi ma tada.!”
B. Visi, Misi dan Strategi Organisasi
VISI
MENJADIKAN ”KOMUNITAS SARANGGE MBOZO” SEBAGAI WADAH PEMBINAAN BAGI GENERASI MUDA YANG PEDULI AKAN NASIB BUDAYA LOKAL
MISI
- Pemberdayaaan masyarakat pada umumnya dan generasi muda pada khususnya dengan intuisi lokal melalui penyadaran akan pentingnya melestarikan budaya sebagai warisan leluhur,
- Mengupayakan agar pemerintah dan masyarakat umum mengenal sejarah dan budaya daerah Bima
STRATEGI ORGANISASI
- Sebagai wadah pembina Persatuan dan Kesatuan antar sesama pengurus dan masyarakat luas,
- Sebagai wadah penyaluran aspirasi, minat dan bakat anggota KSM dan masyarakat luas di bidang budaya
- Memberi saran, masukan dan solusi kepada pemerintah maupun pihak lain yang menghadapi permasalahan khususnya di bidang budaya,
- Sebagai mediator bagi pemberdayaan masyarakat khususnya masalah budaya.
BAB II
SANGGAR GARAPAN DAN PROGRAM KERJA ORGANISASI
A. Program Umum
1. Pembinaan kelembagaan organisasi baik tingkat kabupaten, kota maupun tingkat yang lebih tinggi
2. Konsolidasi organisasi baik secara internal maupun eksternal
3. Pembinaan anggota untuk peduli terhadap program – program yang akan dijalankan organisasi
4. Mengupayakan organisasi KSM sebagai mitra kerja pemerintah dari tingkat RT sampai tingkat Pusat
5. Mengkader anggota dan pengurus organisasi dengan memberikan tugas dan tanggung jawab secara bergantian
B. Program Khusus
1. Sanggar Budaya
- Melakukan sosialisasi tentang Sejarah dan Budaya pada masyarakat umum
- Mengupayakan peningkatan pengetahuan anggota dan masyarakat di bidang budaya
- Memberdayakan tenaga masyarakat dalam usaha melestarikan Budaya sehingga terciptanya kesadaran masyarakat untuk mencintai Budaya.
2. Sanggar Tari
- Memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada anggota tentang beberapa macam tari – tarian tradisional Bima
- Mengupayakan pementasan tari tradisional Bima di depan umum sehingga di kenal oleh masyarakat umum
2. Sanggar Musik
- Memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada anggota tentang beberapa macam alat musik tradisional Bima
- Mengupayakan pementasan jenis musik tradisional Bima sehingga dikenal oleh masyarakat umum.
Sumber Anggaran
1. Iuran Anggota
2. Donatur – donatur
3. Usaha yang sah, halal dan tidak mengikat
BAB III
PENUTUP
Demikian profil Komunitas Sarangge Mbozo (KSM), dibuat sebagai acuan pengembangan.
BIODATA ORGANISASI
Nama Organisasi : Komunitas Sarangge Mbozo
Alamat Sekretariat : Jl. Tongkol No.39 RT.008 RW. 03 Tanjung Kota Bima
Tlp. 081237311717
Akta Notaris :
Pendaftaran :
Penasehat : 1. Ketua Majelis Adat “Dana Mbozo”
: 2. Kepala DISBUDPAR Kota Bima
3. Kepala DISBUDPAR Kabupaten Bima
Pembina : 1. M. Hilir Ismail
: 2. Maman, M.Pd
: 3. N. Marewo
I. Dewan Pendiri : 1. Muhammad Isnaini
2. Rozil Afrizal
3. Ibrahim
II. Dewan Pengurus :
Ketua : Eko Nurfahmi
Sekretaris : Try Sumardiyono
Bendahara : Mitha Sapta Dewi
a. Sanggar Budaya
Koordinator : Muhammad Isnaini
Anggota : Mustakim
: Iranti Mandasari
: Rusdin
: Novitasari
: Dewi Masita
: Yuan Woelandari
: Haerunnas
: Herlina
: Sartika
: Abdul Razak
: Abdul Haris
: Nurlaila
: Akbar Tanjung
: Gita Rubiati
: Taufikkurahman
: Nuridhul Yuniarti
: Nurlathifah
b. Sanggar Tari
Koordinator : Siti Nurkomalasari Parwani
Anggota : Fatmawati
: Khairunnisah
: Wulan Yuniarti
: Emmy
: Desi
: Tamsia
: Ana Yulinan
: Ruhani
: Bunga
: Esti Purnamasari
: Nuraini
: Hikmah
: Arafat
: Yani
: Devina Sukmawarni
: Nurlaila
: Ayu Anggriani
: Yuli Asri Harfani
c. Sanggar Musik
Koordinator : Nandar
Anggota : Ibrahim
: Rozil Afrizal
: Fudin
: Upik Dwi Handayani
: Mega
: Sri Rahmawati
: Irfan
: Sumardin
: Evriyadin
: Arahman
: Sundari
: Wardah
: Yeni
: Wahyudin
: Fikri Maulana
: Akbar
: Iwan Setiawan
: Fikri Maulana
: Alan Syaputra
: Wahyu
: Yanti Octaviani
