oleh: Muhammad Isnaini*
Dalam sejarah, Bima terkenal dengan daerah yang memiliki khazanah islami yang kental. Ulama – ulama kharismatik terlahir di daerah ini, salah satu yang paling harum namanya tidak hanya di tanah Bima dan Dompu tetapi juga di Jawa Timur adalah Syekh Abdul Gani, beliau adalah salah satu Guru dari pendiri NU Kyai H. Hasyim Anshari. Di dalam kitab “BO” kitab kesultanan Bima tertera slogan MAJA LABO DAHU yang artinya Malu untuk berbuat hal – hal yang di luar batas norma susila dan takut untuk melakukan hal – hal yang dilarang oleh agama.
Namun, apakah Bima yang dulu masih menyisakan jejak – jejak indah bersama Islam?, sebuah pertanyaan yang harus kita pertanggung jawabkan bersama dihadapan para generasi. Fenomena yang terjadi saat ini sungguh tidak mencerminkan seperti Bima yang digambarkan oleh sejarah.
Berdasarkan keprihatinan terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, segelintir generasi muda Bima “Dou Labo Dana Mbojo” membentuk sebuah wadah yang diberi nama Komunitas Sarangge Mbozo (KSM) yaitu sebuah wadah silaturrahim bagi generasi yang tujuannya adalah meminimalisir kegiatan – kegiatan negatif yang cenderung dilakukan oleh generasi muda, dengan konsep menampung segala kreatifitas, minat dan bakat untuk sama – sama dikembangkan.
Meski berlabel organisasi budaya namun KSM tetap mengedepankan pada perbaikan moral generasi, hal ini dibuktikan dengan adanya Tausyiah ( ceramah, nasehat) setiap pertemuan disamping itu KSM sudah beberapa kali mengadakan Bhakti Sosial dengan tujuan membangkitkan jiwa sosial generasi agar peduli terhadap masyarakat. Sebagai organisasi budaya KSM terus melakukan pengontrolan dan pengawasan serta merawat situs – situs sejarah, juga KSM sudah beberapa kali turun ke jalan mensosialisasikan kesenian tradisional Bima, dengan menampilkan beberapa tarian dengan tujuan agar masyarakat secara umum dan generasi secara khusus mengenal dan mencintai kesenian daerah sebagai bentuk kearifan lokal, membersihkan tumbuhan liar di Cagar Budaya Pemakaman Bata (kompleks makam Raja Bicara), mengkritik dan melarang segelintir orang yang bermain tennis meja di pelataran Museum Asi Mbojo, membersihkan sampah di pinggiran pantai “Doro Nisa” pulau kambing, menanam pohon di puncak bukit Wadu Ntanda Rahi Monggonao Kota Bima, dan beberapa kegiatan lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam makalah ini.
Dengan Slogan “Maita Kasama Nggahi Ra Rawi Ta Kambali Mbojo Mantoi” KSM mengajak seluruh komponen masyarakat Bima Dou Labo Dana Mbojo untuk bahu mambahu berjuang demi mengembalikan dan mempertahankan Bima yang Islami, Bima yang Maja Labo Dahu. Kemudian, dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh KSM, maka sudah sewajarnya semua pihak terutama pemerintah memberi dukungannya baik berupa dukungan moril maupun dukungan materil kepada KSM karena biar bagaimanapun juga, untuk sementara KSM hanya berisikan para generasi muda yang tentunya masih memiliki banyak kekurangan.
* penulis adalah salah satu pendiri KSM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar